Tradisi Mapagsri di Desa Sumbermulya: Simbol Syukur dan Keteguhan Melestarikan Budaya Leluhur

Oplus_131072

Indramayu/lingkaranistana.id — Di tengah laju modernisasi yang tak terbendung, Desa Sumbermulya Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, tetap teguh memelihara tradisi leluhur yang menjadi jati diri warganya. Tradisi Mapagsri, yang telah berlangsung turun-temurun, kembali digelar dengan penuh semangat dan makna spiritual yang mendalam.
Digelar di halaman Kantor Pemerintah Desa Sumbermulya. Pada Sabtu/19/04/2025.

Tradisi ini dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, pemuka adat, aparat pemerintahan kecamatan, hingga para pemuda desa. Suasana penuh kekeluargaan dan syukur membaur dalam kemeriahan acara yang menjadi wujud rasa syukur para petani atas asil panen yang melimpah .
Sekaligus bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal yang terus dijaga di tengah derasnya arus medornisasi

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sumbermulya, Taryono, S.E., menyampaikan bahwa Mapagsri bukan hanya ritual adat semata, melainkan wujud kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial masyarakat.

“Mapagsri adalah momentum penting untuk menyatukan hati masyarakat dan perangkat desa. Melalui tradisi ini, kita tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan desa yang inklusif dan berkarakter sesuai Visi Indramayu REANG” ujarnya.

Ia juga menggarisbawahi peran budaya dalam menjaga identitas lokal di tengah gempuran budaya global. Taryono menyebut, Mapagsri adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai Islam, adat Jawa, dan semangat gotong royong dapat bersanding harmonis dalam kehidupan masyarakat

“Inilah yang menjadi kekuatan kita, kekayaan budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” tambahnya.

Acara Mapagsri juga diisi dengan serangkaian kegiatan yang mempererat solidaritas warga, seperti kenduri desa, doa bersama, dan pertunjukan seni tradisional. Puncaknya, malam harinya digelar pagelaran wayang kulit yang berhasil menyedot perhatian warga hingga larut malam. Wayang kulit tak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan moral dan filosofi hidup yang dalam

Melalui pelestarian tradisi Mapagsri, Desa Sumbermulya menunjukkan bahwa modernisasi tak harus mengikis budaya. Sebaliknya, dengan kearifan lokal sebagai pijakan, kemajuan bisa dicapai tanpa meninggalkan akar sejarah dan identitas.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kehidupan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas kebudayaan. ( Maman )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *