Indramayu/lingkaranistana.id — Karja (48) masih tak percaya putri bungsunya, Putri Apriyani (24), ditemukan tak bernyawa di kamar kos Rifda 4 Blok Ceblok, Desa Singajaya, Kecamatan Indramayu, Sabtu (9/8/2025).
Malam sebelum tragedi, hubungan ayah-anak itu masih terjalin lewat telepon.
Karja bercerita, saat itu ia meminta Putri mencairkan uang Rp35 juta yang dikirim ibunya dari Hong Kong. Dana itu rencananya untuk menggadaikan sawah keluarga. Putri sempat mencoba menariknya lewat layanan BRILink, namun gagal karena stok tunai kosong. Penarikan via ATM pun terbentur limit harian.
Sekitar pukul 20.00 WIB, komunikasi terakhir terjadi. Setelah itu, telepon dan pesan Karja tak lagi direspons Putri.
“Kami belum tahu uang itu sudah diambil atau belum, karena hanya Putri yang tahu aksesnya,” ungkap Karja.
Thamsin, paman korban, menambahkan ponsel Putri kini diamankan Polres Indramayu sebagai barang bukti. Pengacara keluarga, Toni RM, meminta siapa pun yang mengetahui PIN ATM dan sandi ponsel Putri segera menyerahkannya ke polisi demi membuka titik terang, termasuk alur keluar masuknya uang tersebut.
Di tengah kabar duka itu, Karja mengungkap Putri pernah bercerita memiliki hubungan dengan seorang oknum polisi berinisial S yang bertugas di Polres Indramayu. Meski begitu, Karja mengaku tak pernah bertemu langsung dengan pria tersebut.
Pihak keluarga kini menaruh harapan penuh pada penyidik untuk mengurai benang kusut kematian Putri, apakah terkait uang puluhan juta, hubungan pribadi, atau ada faktor lain yang selama ini tersembunyi.
( Maman )
Misteri Kematian Putri Apriyani: Kronologi Hilang Kontak, Uang Rp35 Juta, dan Jejak Hubungan dengan Oknum Polisi












