Batubara L.i Antrean panjang Pertalite terjadi di SPBU Desa Pakam, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Sabtu (07/03/2026). Warga terlihat mengantre sejak pagi hari untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang belakangan mulai langka di tingkat pengecer.
Pantauan awak media Redaksisatu.Id.batubara di lokasi menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun warga yang membawa jeriken cukup panjang. Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap Pertalite diduga menjadi penyebab utama terjadinya penumpukan antrean di SPBU tersebut.
Selain pengendara kendaraan, sejumlah warga juga datang dengan membawa jeriken untuk membeli Pertalite. BBM yang dibeli menggunakan jeriken tersebut umumnya akan dijual kembali di tingkat pengecer guna memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar permukiman.
Salah seorang pengecer mengaku sudah dua hari tidak memperoleh pasokan Pertalite dari SPBU karena tidak kebagian antrean. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat yang bergantung pada ketersediaan BBM dari pengecer.
“Saya sudah dua hari tidak jualan minyak, karena dalam dua hari ini tidak kebagian antrean. Dampaknya juga terasa pada keberangkatan anak-anak sekolah dan aktivitas masyarakat sehari-hari,” keluhnya.
Melihat situasi tersebut, awak media mencoba mengonfirmasi pihak pengawas SPBU terkait aturan pembelian BBM menggunakan jeriken.
Pengawas SPBU Pakam, Ari, menjelaskan bahwa pembelian Pertalite menggunakan jeriken hanya diperbolehkan bagi masyarakat yang memiliki surat rekomendasi serta barcode yang masih aktif.
“Untuk pembelian menggunakan jeriken, kami hanya melayani masyarakat yang memiliki surat dan barcode aktif. Pembelian dibatasi satu jeriken untuk satu surat. Surat itu juga kami paraf agar semua masyarakat yang memiliki surat bisa terlayani,” jelas Ari.
Ia menambahkan bahwa pemberian paraf pada surat pembelian merupakan langkah untuk menghindari penumpukan BBM oleh satu orang pembeli.
Namun di lapangan, awak media masih menemukan adanya oknum konsumen yang diduga menyiasati aturan tersebut dengan menggunakan foto barcode yang tersimpan di telepon genggam.
“Barcode saya foto di HP, jadi bisa dipakai berulang,” ungkap salah seorang pembeli.
Menanggapi hal itu, awak media kembali meminta klarifikasi kepada Ari melalui pesan WhatsApp terkait kemungkinan penyalahgunaan barcode yang difoto di ponsel.
“Pengisian menggunakan barcode di HP bisa menjadi celah penggunaan barcode secara berulang,” tanya media.
Ari kemudian menyarankan agar awak media berkoordinasi langsung dengan pengawas yang sedang bertugas di lapangan agar kebijakan dapat diambil secara langsung.
“Koordinasi saja dengan pengawas yang standby, Bang, supaya bisa diambil kebijakan di lapangan,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.
Namun saat awak media mencoba berkoordinasi dengan pengawas lapangan dan operator SPBU, respons yang diterima dinilai kurang bersahabat.
“Abang ngapain berdiri di sini?” ujar seorang pengawas lapangan dengan nada tinggi.
Awak media menjelaskan bahwa kedatangannya hanya untuk menyampaikan pesan dari pengawas SPBU sambil menunjukkan percakapan WhatsApp. Meski demikian, penjelasan tersebut tidak diindahkan oleh pengawas lapangan yang juga bertugas sebagai petugas keamanan.
Sikap tersebut dinilai kurang kooperatif terhadap aktivitas jurnalistik di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara berimbang.
Sementara itu, Ari menyebutkan bahwa ketersediaan Pertalite di SPBU Pakam untuk hari ini mencapai sekitar delapan ton. Pihaknya juga berupaya agar pasokan kembali masuk guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Untuk hari ini ketersediaan Pertalite sekitar delapan ton. Kami juga akan berupaya agar pasokan kembali masuk demi memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkas
Editor : Tim












