Mengenal Sultan Thaha Syaifuddin: Singa Jambi yang Tak Kenal Kata Menyerah

 

​TEBO Lingkaranistana. Id.-Di balik hingar-bingar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Sultan Thaha Syaifuddin sering kali terlewatkan dalam diskusi arus utama. Padahal, penguasa terakhir Kesultanan Jambi ini merupakan sosok yang konsisten menjadi “duri dalam daging” bagi kolonialisme Belanda selama hampir setengah abad.
​Sultan Thaha bukan sekadar pemimpin administratif; ia adalah simbol perlawanan total yang memilih meninggalkan kemewahan istana demi hidup di belantara rimba untuk memimpin gerilya.
​Perlawanan Tanpa Kompromi
​Berbeda dengan beberapa penguasa daerah yang memilih bernegosiasi demi mengamankan posisi, Sultan Thaha naik takhta pada tahun 1855 dengan satu prinsip tegas: membatalkan seluruh perjanjian sepihak dengan Belanda.
​Sikap berani ini memicu kemarahan pemerintah kolonial. Ketika Belanda mengirimkan ekspedisi militer untuk menyerang istananya di Tanah Pilih, Sultan Thaha tidak menyerah. Ia membakar istananya sendiri agar tidak jatuh ke tangan musuh dan memindahkan pusat pemerintahannya jauh ke pedalaman Jambi (Muara Tebo).
​Strategi Gerilya dan Diplomasi Luar Negeri
​Selama puluhan tahun, Sultan Thaha menjalankan pemerintahan “bayangan” dari hutan. Beberapa poin krusial perjuangannya meliputi:
​Blokade Ekonomi: Ia berhasil mengendalikan jalur perdagangan lada dan emas di pedalaman, membuat Belanda kesulitan secara finansial.
​Korespondensi Internasional: Sultan Thaha diketahui mencoba menjalin hubungan dengan Kesultanan Utsmaniyah (Turki) untuk meminta dukungan militer dan pengakuan kedaulatan, menunjukkan visi diplomatiknya yang luas.
​Perang Semesta: Ia menyatukan berbagai suku di Jambi, termasuk suku-suku di hulu sungai Batanghari, untuk melakukan serangan mendadak terhadap pos-pos Belanda.
​Akhir Perjuangan di Tanah Beti
​Perjuangan panjang ini menemui titik akhirnya pada 26 April 1904. Melalui operasi militer besar-besaran, Belanda berhasil mengepung persembunyian Sultan di Desa Beti, Tebo. Dalam pertempuran sengit tersebut, Sang Sultan gugur sebagai syuhada.
​Gugurnya Sultan Thaha menandai berakhirnya kedaulatan Kesultanan Jambi secara formal, namun semangatnya tetap hidup. Berkat kegigihannya, pemerintah Indonesia akhirnya menetapkan Sultan Thaha Syaifuddin sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 079/TK/1977.

​”Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa kedaulatan tidak bisa dibeli dengan kenyamanan istana. Sultan Thaha memilih lumpur dan hutan demi harga diri bangsanya.”
​Menolak Lupa
​Meskipun namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Jambi, kisah heroiknya perlu lebih sering digaungkan agar generasi muda tidak melupakan bahwa di tanah Sumatra, pernah ada seorang raja yang lebih memilih wafat di tengah rimba daripada tunduk di bawah kaki penjajah.Husni

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *