MUARO BUNGO, LINGKARAN ISTANA ID — Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya terukir di kota-kota besar, tetapi juga berakar kuat di tepian sungai dan dusun-dusun terpencil. Pada 20 Februari 1949, di tengah gemuruh Agresi Militer Belanda II, seorang prajurit muda bernama Letnan Muda Hoessin Saad mengobarkan semangat perlawanan demi memperkuat pertahanan rakyat di sepanjang wilayah Batang Tebo.
Berdasarkan catatan tertulis Museum Perjuangan Rakyat Jambi dalam dokumen “Sedikit Catatan Mengenai Pasukan Batang Tebo dalam Agresi Belanda ke II 1949”, strategi gerilya dirancang dengan melibatkan pemuda lokal. Atas prakarsa Letnan Muda Hoessin Saad, dibentuklah empat kelompok pertahanan gerilya rakyat yang siap mengadang pergerakan musuh:
- Pasukan Ular Bidai: Berbasis di Marga Tanah Sepenggal, berada di bawah komando H. Ismael Fahroeddin.
- Pasukan Beruang Api: Berbasis di Marga Bilangan V, dipimpin oleh M. Hassan.
- Pasukan Harimau Daun: Berbasis di Marga Jujuhan, dipimpin oleh Muchammad.
- Pasukan Elang Berantai: Berbasis di Pelayang, di bawah pimpinan Abubakar.
Sinergi antara TNI dan laskar pemuda dari berbagai dusun ini puncaknya terjadi pada Agustus 1949. Hoessin Saad memimpin pergerakan pasukan gabungan untuk menekan dan menghadapi kekuatan militer Belanda di wilayah Muara Bungo serta daerah di sekitarnya.
Meski nama-nama mereka jarang menghiasi buku sejarah nasional, derap langkah dan pengorbanan para pejuang Batang Tebo ini menjadi fondasi berharga bagi kedaulatan Indonesia di tanah Jambi. Menolak lupa atas jejak perjuangan mereka adalah cara terbaik merawat kemerdekaan hari ini. (Hi)










