Tebo, Lingkaran Istana Id – Sejarawan dan akademisi Jambi, Dr. Drs. H. Yusdi Anra, M.Pd., yang di hubungi melalui pesan singkat WhatsApp oleh media LI Rabu 19/8/2026.Menyatakan sependapat dengan gerakan RAMPAS Setia 08 Tebo. Ia menegaskan bahwa di tengah kebijakan efisiensi anggaran oleh Pemerintah Kabupaten Tebo, semangat dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tidak boleh surut sedikit pun.
Menurut Yusdi, masyarakat dan pemerintah daerah harus terus menjaga nyala api perjuangan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih dengan pertumpahan darah.
”Kita tidak boleh surut dalam mengisi semangat perjuangan bangsa kita.
Pada masa perjuangan, para pahlawan rela berkorban jiwa dan raga demi membela tanah air agar bangsa kita terbebas dari cengkeraman kaum penjajah yang menguras kekayaan bumi pertiwi,” tegas Yusdi.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa peringatan HUT RI ke-81 ini hendaknya dijadikan sebagai ajang refleksi mendalam bagi seluruh elemen masyarakat dan pimpinan daerah.
”HUT RI ke-81 adalah momentum perenungan kita bersama, sejauh mana cita-cita luhur pendiri bangsa telah kita jalankan. Di usia kemerdekaan yang ke-81 tahun ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita sepenuhnya merdeka?” pungkasnya.

Pesan Keteguhan Diplomat Kawakan: Pidato KH. Agus Salim tentang Pengorbanan Kemerdekaan
Menjelang dan sesudah kemerdekaan 1945, pahlawan nasional sekaligus pahlawan diplomasi Indonesia, KH. Agus Salim, kerap menekankan bahwa kemerdekaan tidak datang cuma-cuma, melainkan menuntut pengorbanan serta kesederhanaan dari para pemimpin dan rakyatnya. Dalam sebuah pidato sejarahnya, sosok yang dijuluki The Grand Old Man ini mengingatkan:
”Kemerdekaan bangsa kita bukanlah hadiah, melainkan buah dari pengorbanan darah, air mata, dan keikhlasan jiwa para pejuang. Memimpin dan mengisi kemerdekaan bukanlah jalan menuju kemewahan atau jalan untuk mencari keuntungan pribadi. Memimpin adalah menderita (Leiden is lijden). Hakiki dari kemerdekaan adalah kebebasan untuk berbakti kepada tanah air dan menjunjung tinggi martabat manusia di atas bumi pertiwi.”
Refleksi Pidato Buya Hamka tentang Kemerdekaan 1945
Mengulas kembali makna kemerdekaan sejati sebagaimana disinggung dalam refleksi sejarah, ulama besar sekaligus pahlawan nasional, Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), pernah menyampaikan pidato monumental mengenai pilar-pilar kemerdekaan pasca-Proklamasi 1945:
”Kemerdekaan itu bukanlah semata-mata lepas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika jiwa dan pikiran suatu bangsa terbebas dari perhambaan selain kepada Allah Yang Maha Kuasa, serta terbebas dari rasa takut, kemiskinan, dan kebodohan.
Republik Indonesia yang kita proklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah amanah besar. Mengisi kemerdekaan menuntut tanggung jawab moral, keadilan sosial, dan kerja keras seluruh rakyat. Jika kita mengabaikan keadilan dan membiarkan kezaliman merajalela, maka kita sesungguhnya sedang merobek makna kemerdekaan itu sendiri.”
Perpaduan pesan moral dari Yusdi Anra.,(Hi)









