BAGORWETAN, NGANJUK (Jatim), Media Nasional Lingkaranistana.id – Minggu 23/08/2026, Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menggema di Desa Bagorwetan, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Ratusan warga memadati sepanjang jalur pawai untuk menyaksikan Pawai Budaya dan Spectacular Carnival yang berlangsung meriah, penuh kreativitas dan nuansa kebudayaan.

Sebanyak 13 kontingen dari berbagai wilayah di Desa Bagorwetan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Masing-masing kontingen tampil dengan konsep dan kreativitas yang berbeda, sehingga sepanjang jalur pawai dipenuhi beragam warna, kostum, seni budaya, musik serta atraksi yang menghibur masyarakat.

Keikutsertaan 13 kontingen tersebut sekaligus menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut momentum kemerdekaan. Persiapan tidak hanya dilakukan oleh kalangan pemuda, tetapi melibatkan anak-anak, kaum ibu, orang tua hingga tokoh masyarakat di lingkungan masing-masing.

Sejak kontingen pertama diberangkatkan, suasana semakin semarak. Kontingen nomor urut 1 yang diikuti salah satu kepala desa turut menjadi perhatian masyarakat. Kehadiran kepala desa bersama warga menunjukkan bahwa semangat memperingati kemerdekaan bukan hanya milik generasi muda, melainkan menjadi bagian dari kebersamaan seluruh lapisan masyarakat.

Setiap kontingen tampil dengan ciri khas masing-masing. Ada yang mengangkat kearifan lokal dan budaya Jawa, menampilkan pakaian adat, seni tradisional, kreativitas kostum carnival, hingga menyampaikan pesan sosial yang dikemas melalui berbagai bentuk penampilan.

Keberagaman tersebut membuat Pawai Budaya Desa Bagorwetan tidak monoton. Setiap rombongan memiliki daya tarik tersendiri ketika melintas di hadapan masyarakat yang menunggu di sepanjang jalan.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah kostum carnival dengan sayap berukuran besar bernuansa keemasan. Ornamen yang dibuat secara detail memberikan kesan megah dan membuat peserta terlihat semakin mencolok ketika berada di tengah barisan pawai.

Penampilan bernuansa budaya Jawa juga tidak kalah menarik. Sejumlah peserta mengenakan surjan dan beskap serta membawa bendera dengan semangat “Nguri-Nguri Budaya Jawi”. Pesan tersebut menggambarkan keinginan masyarakat untuk tetap menjaga budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.
Tidak hanya mengandalkan kostum dan hiburan, sejumlah kontingen juga menyisipkan pesan moral dan edukasi melalui spanduk yang mereka bawa.Salah satunya bertuliskan:
“Pas Pilkades ojo tergiur perkoro duwet cah, salah pilih lurah desomu sepi 5 tahun.”
Pesan tersebut menjadi bentuk sindiran sekaligus edukasi sosial agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat dalam menentukan pilihan dalam pesta demokrasi di tingkat desa.
Selain pesan tentang demokrasi, semangat kerukunan antarwarga juga terlihat dalam spanduk bertuliskan:
“Guyub Rukun, Tetanggan Sesrawungan, Urip Ayem Bebarengan.”
Kalimat tersebut menggambarkan nilai kehidupan masyarakat pedesaan yang mengedepankan kerukunan, saling mengenal, saling membantu dan menjaga hubungan baik antarwarga.
Kemeriahan semakin terasa ketika rombongan demi rombongan melintas. Suara musik dan sorak penonton berpadu dengan penampilan para peserta yang berjalan dengan penuh semangat.
Anak-anak terlihat antusias mengikuti pawai dengan kostum yang beragam. Para remaja dan pemuda tampil penuh percaya diri, sementara warga yang lebih tua turut mengambil bagian dalam barisan. Kebersamaan lintas generasi tersebut menjadi salah satu pemandangan menarik dalam kegiatan tersebut.
Tidak sedikit warga yang mengabadikan penampilan para peserta menggunakan telepon seluler. Setiap kontingen seolah berlomba memberikan penampilan terbaik, bukan semata untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga sebagai bentuk kebanggaan terhadap lingkungan masing-masing.
Salah satu kontingen yang turut memberikan warna tersendiri adalah kontingen nomor urut 13 dari Dusun Jogolewon, Desa Bagorwetan, dengan tajuk “Bagorwetan Spectacular”.
Kontingen tersebut mengusung konsep “Pawai Budaya dan Carnival Sound” sebagaimana tertulis dalam spanduk yang dibawa rombongan. Konsep tersebut memadukan unsur budaya dengan kemeriahan carnival dan hiburan musik.
Tampilan peserta dengan ornamen bernuansa keemasan membuat rombongan tersebut terlihat semakin spektakuler. Kreativitas warga Dusun Jogolewon terlihat dari konsep busana dan properti yang dipersiapkan untuk mengikuti pawai.
Kehadiran kontingen nomor 13 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kreativitas 13 kontingen yang ikut memeriahkan Pawai Budaya Desa Bagorwetan. Masing-masing mempunyai karakter berbeda, namun seluruhnya berada dalam satu tujuan, yakni memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian jajaran Forkopimca Sukomoro. Camat Sukomoro Anang Wisnu Prabowo, Kapolsek Sukomoro AKP Mujianto, serta Danramil Sukomoro Kapten Inf. Hardi Prayetno turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran unsur pemerintahan, TNI dan Polri bersama masyarakat menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan masyarakat. Selain menjaga keamanan dan ketertiban selama berlangsungnya pawai, kehadiran Forkopimca juga menunjukkan sinergi antara pemerintah dengan masyarakat dalam menyukseskan kegiatan kemasyarakatan.
Pawai Budaya tersebut akhirnya bukan sekadar parade untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Di balik kostum, musik dan berbagai atraksi yang ditampilkan, terdapat semangat gotong royong warga yang bekerja bersama mempersiapkan penampilan masing-masing.
Dari proses persiapan hingga pelaksanaan, warga menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat.
Keberagaman tema dari 13 kontingen justru menjadi kekuatan tersendiri. Perbedaan kreativitas tidak menjadi sekat, melainkan berpadu menjadi satu pertunjukan yang menghibur sekaligus membawa pesan tentang budaya, kerukunan dan kebersamaan.
Pawai Budaya Desa Bagorwetan juga menjadi gambaran bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Nilai-nilai gotong royong, guyub rukun dan kecintaan terhadap budaya terus diwariskan melalui kegiatan yang melibatkan berbagai generasi.
Dengan semangat kemerdekaan, warga Desa Bagorwetan membuktikan bahwa sebuah perayaan tidak harus sekadar seremonial. Ketika masyarakat bersatu, sebuah kegiatan sederhana dapat berubah menjadi pertunjukan yang meriah, kreatif dan memberikan kesan bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Berbeda tema, berbeda kreativitas, berbeda penampilan, tetapi tetap satu dalam semangat kemerdekaan Republik Indonesia. Bagorwetan bergemuruh, budaya tetap hidup dan kebersamaan warga semakin kuat.
( Nanik Susana Kaperwil Jatim )










