TEBO — Lingkaran Istana.Id — Jauh sebelum megahnya era modern, kawasan hulu Batanghari telah menjadi simpul penting peradaban agung Melayu kuno. Catatan ekspedisi arkeolog Belanda, Frederic David Schnitger, pada tahun 1935 dan 1936 menjadi salah satu pintu masuk utama dalam memetakan jejak kebudayaan Hindu-Buddha di wilayah pedalaman Jambi, khususnya di kawasan Teluk Kuali dan sekitarnya.
Dalam laporan sejarah dan arkeologi, terdapat tiga aspek utama catatan Schnitger yang memberikan gambaran kuat mengenai pengaruh keagamaan dan politik di wilayah hulu Batanghari:
1. Penemuan Gundukan Bata Merah (Heaps of Bricks)
Dalam ekspedisinya, Schnitger mencatat keberadaan gundukan-gundukan bata merah kuno yang tersebar di sepanjang aliran tengah hingga hulu Batanghari. Ia secara spesifik mengidentifikasi titik-titik penting di Teluk Kuali, Tanah Periuk, dan Betung Berdarah.
Temuan awal Schnitger inilah yang menjadi fondasi dasar bagi Dinas Purbakala Indonesia untuk menggelar ekspedisi resmi ke Candi Teluk Kuali pada Maret 1954, yang dipimpin oleh arkeolog senior R. Soekmono bersama timnya.
2. Jejak Ikonografi “Hindoo-Sumatra” di Hulu Jambi
Melalui karyanya yang menggunakan istilah kolonial Hindoo Sumatra—merangkum pengaruh kebudayaan Hindu dan Buddha sekaligus—artefak fisik yang ditemukan di wilayah Tebo dan Teluk Kuali memperlihatkan corak keagamaan yang sangat mapan:
Penemuan arca Buddha di Teluk Kuali (yang sempat diselamatkan oleh H. Hoesin Saat) dengan lapik teratai berangka tahun abad ke-7 hingga 11 Masehi, serta temuan arca perunggu tegak di sekitarnya, menjadi bukti konkret asimilasi budaya keagamaan di sepanjang jalur perdagangan kuno.
Analisis catatan Schnitger memperlihatkan bahwa situs keagamaan di Teluk Kuali berfungsi sebagai pos religius dan politik strategis. Situs ini menghubungkan pusat kedatunan besar di hilir (seperti kompleks Muaro Jambi) dengan pusat kerajaan di hulu Batanghari (seperti Dharmasraya/Padang Roco).
3. Warisan Karya Schnitger bagi Pelestarian Situs
Karya-karya Schnitger berhasil membuka mata dunia bahwa Sumatra menyimpan sejarah “kerajaan yang terlupakan” (Forgotten Kingdoms in Sumatra). Peta purbakala yang digagasnya hingga kini menjadi rujukan utama bagi para arkeolog modern untuk memahami bagaimana struktur suci berbahan bata merah dapat berdiri kokoh di pedalaman Jambi yang masa itu masih berupa hutan lebat.
Keberadaan Candi Teluk Kuali dari abad ke-8 hingga 11 Masehi ini mempertegas bahwa pedalaman Jambi menyimpan jejak peradaban Melayu yang agung dan bernilai sejarah tinggi bagi Indonesia.(Hi)










