Nelayan Cumi Eretan Wetan Tolak VMS: Tuntut Keadilan dalam Modernisasi Perikanan

Oplus_131072

Indramayu/lingkaranistana.id  – Suasana di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu berubah drastis pagi ini. Biasanya dipenuhi oleh hiruk pikuk aktivitas jual beli hasil tangkapan laut, hari ini TPI menjadi arena perjuangan puluhan nelayan cumi yang menuntut keadilan. Mereka menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemasangan Vessel Monitoring System (VMS), sistem pelacakan kapal perikanan yang diwajibkan Selasa/15/04/2025.

Aksi damai dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Dengan membawa spanduk dan pengeras suara, para nelayan berorasi menyampaikan kekecewaan mereka. Mereka menganggap VMS sebagai beban tambahan yang tidak memberi manfaat langsung, justru menyulitkan operasional mereka di laut.

“Kalau memang niatnya untuk pengawasan, kenapa tidak ajak kami diskusi dulu? Jangan tiba-tiba pasang kebijakan, sementara kami di lapangan yang kena dampaknya,” ujar salah satu tokoh nelayan setempat, yang enggan disebutkan namanya.

Menurut para nelayan, pemasangan VMS tidak hanya menambah biaya, tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan terkait efektivitas dan transparansinya. Alat ini, yang seharusnya memantau pergerakan kapal untuk mencegah pelanggaran wilayah tangkap, justru dianggap mengekang kebebasan mereka berlayar, padahal mereka melaut bukan untuk merusak, melainkan untuk bertahan hidup.

Lebih jauh, para nelayan menilai bahwa pemerintah terkesan abai terhadap kenyataan di lapangan. Mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, padahal mereka adalah pihak yang paling terdampak. Mereka juga menyoroti kontribusi nelayan kecil terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang menurut mereka sudah cukup besar, namun tidak diimbangi dengan perlindungan atau kebijakan yang berpihak.

“Kami bukan penjahat laut, kami rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan. Kalau mau bikin sistem, tolong libatkan kami. Jangan cuma duduk di kantor, lalu atur kami seenaknya,” ujar seorang nelayan senior sambil menunjukkan bukti setoran PNBP miliknya.

Aksi ini dijaga ketat aparat gabungan dari Polri dan TNI agar tetap berlangsung damai. Meski demikian, semangat para peserta aksi tetap menyala. Mereka berharap suara mereka kali ini benar-benar didengar oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di akhir aksi, Serikat Nelayan Cumi Eretan Wetan menyampaikan tiga tuntutan utama: peninjauan ulang kebijakan VMS,pelibatan nelayan dalam perumusan regulasi perikanan, serta perlindungan terhadap nelayan kecil dari kebijakan yang berpotensi menyulitkan.

Para nelayan juga mengajak masyarakat luas untuk ikut peduli terhadap nasib nelayan tradisional, yang kerap kali terpinggirkan dalam proses modernisasi sektor perikanan nasional.

“Kami ingin teknologi, tapi yang berpihak pada rakyat. Kami siap diawasi, tapi bukan ditindas,” tutup seorang peserta aksi sambil menatap lautan, tempat mereka selama ini menggantungkan hidup.

Aksi di Eretan Wetan hari ini menjadi cermin dari keresahan banyak nelayan kecil di seluruh Indonesia. Bahwa dalam setiap kebijakan, keadilan sosial dan suara dari bawah harus menjadi landasan utama, bukan sekadar angka dan aturan di atas kertas. ( Maman )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *