Indramayu/lingkaranistana.id- Musim panen yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi bencana ekonomi bagi para petani di Desa Soge dan Cibiuk, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Bukannya meraih hasil dari kerja keras berbulan-bulan, para petani kini justru terjebak dalam krisis akibat harga gabah yang anjlok dan tidak adanya kepastian pasar.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga gabah yang sempat menyentuh Rp 7.100 per kilogram, tiba-tiba terjun bebas tanpa alasan yang jelas. Kini, harga di tingkat petani melemah drastis, bahkan tak jarang mereka kesulitan mencari pembeli.
Tengkulak dan pengepul yang biasa menyerap hasil panen petani, kini menghilang satu per satu. Sebagian diduga mundur karena tidak mampu bersaing dengan kebijakan pembelian dari Bulog yang dinilai memberatkan.
“Panen sekarang susah, harga juga anjlok, ditambah enggak ada bakul yang mau nyerap. Kami bingung harus jual ke siapa,” ungkap seorang petani di Soge yang meminta namanya tidak disebutkan.Pada Rabu/28/05/2025.
Salah satu faktor utama yang memperparah kondisi ini adalah kebijakan Perum Bulog yang mewajibkan standar rendemen minimal 5,3% untuk gabah yang diserap. Rendemen merupakan ukuran hasil beras yang diperoleh dari penggilingan gabah. Sayangnya, di lapangan, banyak petani tidak mampu memenuhi angka tersebut karena kualitas gabah yang beragam dan biaya produksi yang kian tinggi.
“Dengan modal produksi yang mahal dan harga jual rendah, kalau rendemennya harus segitu, kami malah rugi. Akhirnya banyak mitra Bulog berhenti nyerap gabah kami,” keluh petani lain dari Cibiuk.
Padahal, salah satu fungsi utama Bulog sebagai lembaga negara adalah menjaga stabilitas harga pangan, khususnya pada masa panen raya. Alih-alih menjadi solusi, kebijakan Bulog kali ini dianggap menciptakan jarak antara regulasi pemerintah dan realita di lapangan.
Dengan persyaratan yang ketat dan ketidakpastian harga, sejumlah mitra Bulog di wilayah Kandanghaur memilih menghentikan pembelian gabah dari petani. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya daya serap tengkulak, yang biasanya menjadi alternatif distribusi hasil panen petani.
“Sekarang mitra enggak berani ambil, bakul juga enggak ada. Gabah numpuk di rumah, tapi kami enggak bisa apa-apa. Kalau begini terus, kami bisa bangkrut,” ujar seorang petani sambil menunjukkan tumpukan karung gabah yang belum terjual.
Kondisi ini membuka mata akan rentannya sistem pertanian nasional, terutama saat lembaga stabilisator seperti Bulog dinilai gagal menjalankan peran strategisnya. Para petani mendesak agar pemerintah pusat segera turun tangan dengan mengevaluasi ulang kebijakan teknis Bulog, termasuk standar rendemen yang dianggap terlalu tinggi dan tidak realistis.
“Bulog tetap harus serap gabah petani, tapi jangan pakai standar yang jauh dari kenyataan. Kami bukan pabrik besar, kami petani kecil. Tolong bantu kami, jangan matikan kami,” ujar seorang petani dengan nada putus asa.
Lebih lanjut, para petani meminta agar Bulog segera membuka kembali saluran distribusi pembelian, serta menetapkan harga beli yang layak agar petani tidak terus merugi. Mereka mengingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan berlarut, bukan hanya Soge dan Cibiuk yang terdampak, tetapi juga desa-desa lain di Indramayu hingga ke seluruh Jawa Barat.
Ironisnya, saat panen melimpah, justru kesejahteraan petani merosot tajam. Gabah melimpah tapi tak ada pembeli, sementara biaya hidup dan produksi terus meningkat.
Harapan terakhir mereka kini bertumpu pada keberpihakan pemerintah dan langkah cepat Bulog dalam menyerap gabah petani dengan harga dan syarat yang masuk akal.
“Kami sudah cukup sabar. Sekarang waktunya negara hadir untuk kami. Kalau Bulog tidak segera bertindak, panen kali ini bukan lagi masa panen, tapi masa nestapa,” tutup seorang petani tua di bawah terik matahari. ( Maman )
Petani Kandanghaur Terjepit: Harga Gabah Anjlok, Bulog Tak Responsif, Tengkulak Menghilang










