Indramayu/lingkaranistana.id – Harapan dan doa tak henti-hentinya dipanjatkan Mujahid (38), seorang pria asal Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Istrinya, Marini (38), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang telah mengabdi selama enam tahun di Taiwan, kini tengah berjuang antara hidup dan mati dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di negara tersebut.
Marini dikabarkan mengalami kecelakaan domestik akibat penyakit darah tingginya yang kambuh. Ia terjatuh di kamar mandi dan kepalanya membentur keras lantai keramik, menyebabkan luka serius di bagian kepala. Sejak kejadian itu 17 hari yang lalu, Marini belum sadarkan diri.
“Dia jatuh di kamar mandi, langsung tidak sadarkan diri. Sudah 17 hari dirawat di rumah sakit di Taiwan, belum juga sadar,” tutur Mujahid dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya. Pada Kamis/29/05/2025.
Untuk menutupi biaya pengobatan awal, Mujahid terpaksa menjual satu-satunya harta yang dimilikinya sebidang tanah yang selama ini menjadi tumpuan masa depan keluarga. Uang hasil penjualan itu sebesar Rp25 juta langsung ia kirim ke rumah sakit di Taiwan. Namun, biaya pengobatan tak berhenti di situ.
“Uang hasil jual tanah itu sudah habis untuk membayar tagihan rumah sakit. Sekarang, saya benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi mencari bantuan,” ujarnya lirih.
Marini, yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW), meninggalkan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang kini duduk di bangku kelas 5 SD. Putra mereka kini hanya bisa berharap sang ibu bisa segera pulih dan kembali ke tanah air.
Melihat kondisi Marini yang kritis dan kebutuhan biaya yang terus membengkak, salah satu kerabat dekatnya, Tika Renika (35), berinisiatif menggalang dana bersama warga. Operasi ketiga Marini dijadwalkan segera dilakukan, namun pihak rumah sakit mewajibkan pembayaran uang muka sebesar Rp25 juta agar prosedur medis bisa dilanjutkan.
“Dalam dua hari, kami sudah berhasil kumpulkan Rp7,5 juta dari warga dan relawan. Tapi masih jauh dari cukup. Kami benar-benar berharap uluran tangan dari siapa saja, terutama dari pemerintah,” jelas Tika.
Upaya penggalangan dana ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga, kepala desa, serta organisasi masyarakat di Desa Tinumpuk. Mereka bahu-membahu demi menyelamatkan nyawa Marini.
Menurut informasi dari Tika, pihak Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan telah menjenguk Marini di rumah sakit. Majikan serta agen penyalur tenaga kerja juga telah memberikan bantuan, meskipun masih dalam batas seadanya.
“Sudah dijenguk pihak KDEI dan majikan juga bantu, tapi belum cukup. Kami tetap butuh campur tangan pemerintah lebih lanjut,” katanya.
Meskipun keluarga sudah melaporkan kejadian ini ke Migrancare serta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, hingga saat ini belum ada tindakan nyata dari pemerintah terkait penanganan kasus ini. Padahal, waktu terus berjalan dan kondisi Marini kian memburuk.
“Sudah lapor ke Migrancare dan Disnaker, tapi sampai sekarang belum ada kelanjutan berarti. Kami sudah tunggu 17 hari,” ujar Tika.
Dalam keadaan terdesak, Mujahid mengajukan permohonan terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dan Bupati Indramayu Lucky Hakim agar dapat membantu proses pengobatan dan pemulangan Marini.
“Saya mohon dengan sangat, kepada Bapak Presiden, Bapak Gubernur, dan Bapak Bupati, bantu istri saya agar bisa dirawat dengan layak dan bisa pulang ke Indonesia,” pinta Mujahid dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Marini bukan hanya tentang seorang istri dan ibu yang tengah terbaring koma jauh dari tanah air, tetapi juga cermin dari tantangan berat yang dihadapi para pekerja migran Indonesia. Diperlukan respons cepat dan nyata dari pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat luas untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Bagi pihak yang ingin membantu, keluarga dan tim
PMI Asal Indramayu Koma di Taiwan, Keluarga Memohon Bantuan Pemerintah untuk Pemulangan dan Biaya Pengobatan










