Berjuang di Tengah Derita: Kisah Dasli, Ayah Tunggal Penderita Tumor Otak yang Dapat Uluran Tangan dari Camat dan Relawan

Oplus_131072

Indramayu/lingkaranistana.id – Hidup Dasli (47), seorang ayah tunggal asal Desa Jumbleng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kini seolah terhenti. Pria yang sehari-hari mengais rezeki dari jual beli barang rongsokan itu terbaring lemah di RSUD Indramayu setelah didiagnosis menderita tumor otak.

Kondisinya kritis pascaoperasi, dan hingga kini belum sadarkan diri.
Kabar ini mengejutkan keluarganya. Sang kakak, Darim, mengaku tidak pernah menduga adiknya mengidap penyakit serius.

“Awalnya hanya pusing biasa, tapi setelah diperiksa lebih lanjut, hasil scan menunjukkan adanya tumor otak. Kami sangat terpukul,” ungkapnya lirih.

Kondisi Dasli menjadi semakin memilukan karena ia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga setelah sang istri meninggal dunia akibat COVID-19. Ia membesarkan anak semata wayangnya sambil merawat ibunya, Tarmi (70), yang juga tengah sakit dan menjalani pengobatan jalan.

Kini, keluarga kecil itu kehilangan harapan utama mereka. Meski biaya operasi dan perawatan medis ditanggung oleh BPJS Kesehatan, kebutuhan lain seperti biaya harian, transportasi, dan kebutuhan anak menjadi beban yang berat.

“Penghasilan tidak ada, ibu sakit, anak juga masih kecil. Kami bingung harus bagaimana,” kata Darim.

Namun, di tengah kesulitan itu, cahaya harapan mulai tampak. Relawan Revolusi Korcam Losarang, Abdul Kholik, bersama TKSK dan Camat Losarang, Boy Billy Prima, S.STP, turun langsung membantu keluarga Dasli.

Mereka mengupayakan bantuan dari BAZNAS dan membuka donasi untuk masyarakat yang ingin membantu.

“Kami sudah berkoordinasi dan membuka jalur bantuan. Ini bukan sekadar urusan sosial, tapi soal kemanusiaan. Dasli butuh kita semua,” ujar Abdul Kholik saat ditemui di rumah sakit.

Camat Losarang juga menyatakan empatinya dan mengajak warga turut membantu.

“Dalam situasi seperti ini, kepedulian bersama sangat dibutuhkan. Semoga bantuan yang datang bisa memberikan semangat dan harapan untuk keluarga Dasli,” ujarnya.

Keluarga besar Dasli kini hanya bisa berharap akan keajaiban. Mereka ingin sang ayah kembali sadar, pulih, dan bisa kembali menjadi pelindung bagi anak dan ibunya yang sudah renta.

“Kami hanya bisa berdoa,” ujar Darim pelan.

Kisah Dasli adalah potret nyata betapa rapuhnya kehidupan masyarakat kecil saat harus berhadapan dengan penyakit berat. Namun dari kisah ini pula, kita belajar bahwa solidaritas dan kepedulian bisa menjadi harapan nyata bagi mereka yang sedang diuji oleh kehidupan.
( Maman )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *