Indramayu/lingkaranistana.id – Kasus perundungan kembali mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Indramayu. Seorang siswa kelas IV SD Negeri Margadadi 7, Ahmad Zaeluddin Sahab, mengalami perlakuan kasar dari teman sekelasnya hingga trauma berat dan menolak bersekolah.
Korban yang akrab disapa Sahab ini mengaku sering ditendang bahkan dihimpit meja. Perlakuan tersebut menimbulkan memar di bagian tubuhnya. Kondisi memburuk ketika ia mengalami demam tinggi disertai kejang, hingga sang ibu, Atpiyah, mendapati luka memar di paha anaknya.
“Awalnya anak saya menolak berangkat sekolah, katanya sering dibully. Setelah saya paksa masuk, malamnya dia demam tinggi dan kejang. Saat dibawa ke tukang urut, baru ketahuan ada memar di pahanya akibat ditendang dan dihimpit meja,” ungkap Atpiyah, Selasa (23/9/2025).
Ia menambahkan, kini anaknya kerap dilanda ketakutan dan bahkan sempat meminta berhenti sekolah.
“Harapan saya, anak saya bisa sekolah lagi, biar tidak ketinggalan pelajaran, demi masa depan dia,” tuturnya.
Wali kelas IV, Dian, mengaku terkejut ketika mengetahui kondisi muridnya tersebut. Menurutnya, Sahab adalah anak pendiam sehingga tak pernah menceritakan apa yang dialaminya.
“Sahab tidak masuk sekolah dua hari. Saat saya tanyakan, teman-temannya bilang Sahab ditendang dan sampai kehimpit meja, kakinya sampai biru. Saya kaget sekali,” ujarnya.
Dian kemudian berinisiatif mempertemukan orang tua korban dengan orang tua pelaku agar masalah bisa diselesaikan secara terbuka.
“Saya tidak mau panjang lebar, jadi saya ajak anak-anaknya dan orang tua mereka masing-masing untuk bicara bersama. Supaya sama-sama enak dan tidak ada dendam antar orang tua murid,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kasus ini menjadi peringatan serius agar tidak ada lagi perundungan di sekolah.
“Saya juga tidak mau murid saya diperlakukan kasar. Saya maunya semua anak bisa belajar dengan baik tanpa ada rasa takut,” pungkas Dian.
( Maman )
Siswa SD Negeri Margadadi 7, Jadi Korban Bullying, Alami Trauma hingga Enggan Sekolah












