TEBO – Lingkaran Istana .Id – Slogan adat “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tampaknya kian bergeser di Kabupaten Tebo. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa penerapan hukum dan prosesi adat kini cenderung berjalan sendiri-sendiri, menyesuaikan dengan suku masing-masing .Akibatnya, filosofi “di mana bumi dipijak di situ jendawan tumbuh ” kini hanya menjadi sekadar bahasa kiasan dan pemanis pidato adat semata.
Kondisi pemakaian adat istiadat khas Melayu Jambi / Tebo saat ini dinilai sudah dalam tahap yang memprihatinkan. Heterogenitas penduduk di Kabupaten Tebo memicu fenomena di mana setiap suku membawa dan menerapkan tradisi asal mereka sendiri, alih-alih melebur ke dalam adat Melayu Jambi atau adat asli Tebo yang menjadi tuan rumah.
Berdasarkan pantauan dan realitas yang ada, gaung adat asli Tebo kini semakin hari semakin meredup. Tradisi ini praktis hanya bisa ditemukan dan masih kental diterapkan di desa-desa tua atau desa asli asal Tebo.Mayoritas wilayah yang masih teguh memegang teguh adat Melayu Jambi ini, dari pantauan kami, banyak yang terletak di sepanjang aliran Sungai Batanghari dan sebagian desa lainya.Dengan melihat kondisi yang ada saat ini, Adat asli Melayu Jambi / Tebo,Baik pemakain bahasa,adat perkawinan lama lama bisa tidak terdengar lagi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam penyelesaian sengketa sosial.
Ketua DPD Rumah Juang Rampas Setia 08 Berdaulat Kab Tebo ,M.Husni angkat bicara,, mengatakan bahwa,, Dengan melihat fenomena dan kenyataan seperti ini,menghimbau ,perlu langkah nyata dari Lembaga Adat Melayu Tebo biar dengan kondisi seperti ini tidak memicu kekhawatiran dari berbagai tokoh masyarakat,generasi muda .Jika pembiaran ini terus berlanjut tanpa adanya ketegasan dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Tebo untuk membumikan kembali aturan lokal seperti Kabupaten tetangga dan Kabupaten lainya,dikhawatirkan generasi muda Tebo akan kehilangan identitas asli budaya mereka sendiri . .Ucap M.Husni.
Di samping itu juga Husni mengatakan,ada beberapa tokoh adat,,tokoh agama,pengiat budaya ,pemerhati adat dan generasi muda,menemui kami ,salah satunya Ismail Tokoh dari 7 Koto .Menyampaikan keluhan itu kepada kami, di dalam diskusi kami tersebut,Ismail berharap dan berucap dengan wajah,nada yg sedih dan iba,mengatakan : bahwa harus ada langkah konkret dari LAM Kabupaten Tebo ,bukan sekadar seremonial, untuk menghidupkan kembali roh adat Tebo. Sudah saatnya aturan adat asli ditegakkan secara menyeluruh bagi siapa saja yang menetap di bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung ini,, agar adat yg kita cintai ini , tidak hanya menjadi sejarah yang terkikis oleh zaman. ujar Ismail
( Oeoes )










