JAMBI — Lingkaran Istana. Id – Sejarah panjang bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan mencatat deretan kisah heroik para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan tanah air dari cengkeraman penjajah. Mulai dari era kesultanan, penjajahan Jepang, hingga masa gerilya pasca-proklamasi, dinamika perjuangan rakyat Jambi membuktikan semangat pantang menyerah yang membara dari generasi ke generasi.
Masa Kesultanan: Nyala Api Perlawanan Dinasti Sultan Thaha
Perjuangan gigih rakyat Jambi diawali pada masa Kesultanan Jambi. Pada tahun 1855, Sultan Thaha Syaifuddin diangkat menjadi Sultan Jambi terakhir pada usianya yang ke-39 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Jambi secara tegas menolak tunduk pada aturan dan monopoli Belanda.
Setelah puluhan tahun memimpin perlawanan bergerilya dari dalam hutan, Sultan Thaha akhirnya gugur sebagai Kesuma Bangsa pada 26 April 1904. Meski sang pahlawan besar telah tiada, kobaran semangatnya tidak padam:
Raden Mattaher: Cucu dari Sultan Thaha ini melanjutkan tongkat estafet perjuangan dengan taktik perang gerilya yang sangat ditakuti Belanda, hingga akhirnya ia gugur pada 10 November 1907.
Raden Hamzah: Cucu Sultan Thaha lainnya (putra dari Pangeran Uyut) turut memimpin perlawanan bersenjata hingga gugur dalam pertempuran sengit di Desa Lubuk Mengkuang pada tahun 1906 di usia sekitar 35 tahun.
Masa Penjajahan Jepang (1942–1945): Melatih Diri dalam Senyap
Kedatangan tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 membawa penderitaan baru bagi masyarakat Jambi. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan tekad para pejuang lokal. Secara sembunyi-sembunyi, para pemuda dan pejuang Jambi membentuk kelompok-kelompok rahasia untuk melatih militer dan menyusun strategi. Dalam pergerakan bawah tanah ini, sosok Sultan Thaha Syaifuddin terus dijadikan sebagai simbol utama keteladanan dan perlawanan.
Masa Revolusi Kemerdekaan: Aksi Perebutan Senjata
Pascaproklamasi
Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, atmosfer pergerakan di Jambi makin memanas. Pada 8 September 1945, para pemuda Jambi melancarkan aksi berani dengan menggerebek dan merebut markas tentara Jepang. Dalam aksi strategis tersebut, sebanyak 500 pucuk senjata berhasil dilucuti dan diamankan untuk memperkuat barisan pertahanan rakyat.
Masa Agresi Belanda (1946–1947): Ancaman NICA
Kegembiraan atas kemerdekaan kembali diuji ketika pasukan Belanda yang membonceng NICA (Netherlands Indies Civil Administration) berusaha menancapkan kembali kekuasaannya di tanah air pada rentang tahun 1946 hingga 1947. Kedatangan kembali pasukan kolonial ini memicu ketegangan baru dan memaksa rakyat Jambi masuk ke fase pertempuran berikutnya.
Masa Gerilya (1947–1949): Jambi dalam Pemerintahan Darurat
Saat kota-kota utama dan wilayah strategis Jambi berhasil dikuasai oleh Belanda, para pejuang tidak lantas menyerah. Pemerintah dan jajaran militer Jambi mengalihkan basis pertahanan ke pedalaman dan menjalankan Pemerintahan Darurat. Dari dalam hutan dan desa-desa, taktik perang gerilya terus dilancarkan untuk melumpuhkan pergerakan musuh hingga tahun 1949.
Masa Mengisi Kemerdekaan (1950): Integrasi Penuh ke NKRI
Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil manis setelah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB). Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia.
Sebagai puncak dari keteguhan sikap rakyat Jambi, pada 6 Januari 1950, Jambi secara resmi menyatakan diri masuk dan menyatu secara utuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanggal ini menjadi tonggak sejarah penting yang menandai beralihnya perjuangan fisik menuju era mengisi kemerdekaan. (Hi)









