éTEBO, LINGKARAN ISTANA ID — Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tebo yang ke-27 pada 12 Oktober 2026, jajaran pengurus dan keluarga besar Rumah Juang RAMPAS 08 Setia Berdaulat Kabupaten Tebo bersama Komunitas Wartawan Tebo (KAWAT) menyampaikan ucapan selamat dan doa terbaik untuk kemajuan daerah.
”Selamat Hari Jadi Kabupaten Tebo ke-27. Semoga Kabupaten Tebo senantiasa maju, seutuhnya sejahtera, merawat potensi sejarah dan budayanya, serta tetap berjaya di masa depan,” ujar Suyanto, mewakili RAMPAS 08 dan KAWAT.
Secara arkeologis dan historis, Kabupaten Tebo merupakan salah satu wilayah strategis di Provinsi Jambi yang menyimpan jejak peradaban panjang serta potensi purbakala dari wilayah pesisir aliran sungai hingga pusat kota:
Situs Peninggalan Era Hindu-Buddha: Di kawasan Teluk Kuali, jejak peradaban tua terekam kuat melalui temuan struktur candi dan artefak purbakala yang diperkirakan berasal dari era abad ke-8 M.
Di kawasan Muara Tebo dan sekitarnya, berdiri kokoh bangunan-bangunan sekolah serta gedung perkantoran tua peninggalan era Onder Afdeeling Belanda yang menjadi saksi bisu dinamika administrasi zaman kolonial.
Situs Religi & Makam Bersejarah: Keberadaan Bukit Siguntang hingga kompleks makam bersejarah seperti Makam Maha Rajo Batu ,Makan Sech Ahmad Sungai Macang menjadi bukti nyata bahwa wilayah ini senantiasa menjadi pusat peradaban dari masa ke masa.
Nama Pahlawan Nasional Sultan Thaha Saifuddin begitu melekat di hati masyarakat. Keberadaan Makam Sultan Thaha di Muaro Tebo menjadi simbol kedekatan historis serta jejak perjuangan yang terus diwariskan lintas generasi.
Berdasarkan catatan sejarah, wilayah Muara Tebo dulunya pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jambi. Pada masa pendudukan Belanda, daerah ini berlanjut sebagai pusat pemerintahan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, melalui UU Nomor 10 Tahun 1948, Muara Tebo sempat mencatatkan sejarah penting sebagai ibu kota Kabupaten Jambi Ulu yang membawahi wilayah Sarolangun, Bangko, Muaro Bungo, dan Muaro Tebo. Seiring dinamika penataan daerah, Tebo kemudian bergabung menjadi bagian dari Kabupaten Bungo Tebo (Bute).
Semangat reformasi serta aspirasi masyarakat untuk mempercepat pembangunan akhirnya mendorong pemekaran wilayah. Melalui usulan Pemerintah Daerah dan DPRD Tingkat II Bungo Tebo, Kabupaten Tebo resmi berdiri sebagai daerah otonom baru pada 12 Oktober 1999. Pada awal terbentuknya, Drs. H.A. Madjid Mu’az, MM dilantik sebagai penjabat (caretaker) Bupati Tebo sebelum akhirnya terpilih secara definitif.
Satu hal yang tak kalah membanggakan, Kabupaten Tebo secara konsisten melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh di kancah birokrasi, militer, dan politik—baik di tingkat Provinsi Jambi maupun di wilayah Bungo Tebo:
Birokrat & Perwira Senior: Nama-nama besar seperti Datuk Sahak (Sekretaris Walikota era tahun 1960-an), Kolonel H.M. Syukur, H. Rojali, H. Hoesin Saat, Abdul Mutalib, Zainal Imron ,Hasan Jani.dan Syopian Ali dll.
Figur kunci asal Tebo seperti H.M.Syukur serta sejumlah tokoh lainnya yang banyak berkiprah di tingkat Provinsi Jambi. Banyak di antara mereka yang sukses menduduki posisi strategis sebagai Ketua Partai Politik tingkat Provinsi Jambi (seperti pimpinan Golkar, PPP, dan PDI pada era tahun 1990-an).
Melalui peringatan HUT Kabupaten Tebo ke-27 ini, RAMPAS 08 TEBO dan KAWAT mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat warisan sejarah, memperkuat persatuan, dan bersama-sama mengawal pembangunan Kabupaten Tebo menuju masa depan yang lebih cemerlang.
(Hi)









