Indramayu/lingkaranistana.id – Di tengah gegap gempita pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, di sudut sepi Desa Ranjeng, Kecamatan Losarang, masih ada kisah memilukan yang tak tersorot lampu kamera.
Heri Sujati, seorang bocah berusia 10 tahun, hidup dalam kondisi yang jauh dari layak—tanpa rumah, tanpa orang tua, dan tanpa jaminan masa depan yang pasti.
Heri adalah anak yatim piatu. Sejak ditinggal kedua orang tuanya untuk selamanya, ia kini hanya memiliki satu-satunya keluarga tersisa: sang kakek yang sudah renta. Bersama, mereka bertahan hidup di dalam sebuah tenda darurat yang diberikan oleh Kementerian Sosial.
Tenda itu, lebih mirip gubuk sederhana dari terpal plastik, berdiri di atas tanah basah tanpa alas. Tak ada kasur empuk, tak ada penerangan yang memadai, hanya dinginnya malam dan panasnya siang yang mereka hadapi hari demi hari.
Setiap pagi, Heri tidak bersiap-siap pergi ke sekolah seperti anak-anak lain. Sebaliknya, ia membantu sang kakek mencari penghasilan seadanya, entah dari memulung, atau membantu warga yang membutuhkan tenaga kecilnya.
Mereka juga harus bergantian menggunakan MCK darurat yang dibuat dari bilah bambu dan ditutup kain. Tak hanya tidak layak, fasilitas ini bahkan jauh dari kata aman dan sehat, terlebih bagi anak-anak.
Makanan pun tak selalu tersedia. Kadang hanya ada nasi dan garam, atau mie instan yang dibagi dua untuk hari esok. Saat hujan turun, air merembes masuk ke dalam tenda, membuat tempat tidur mereka becek dan lembap.
Meski dalam keterbatasan yang menyesakkan, Heri tetap memelihara impian. Ia pernah bercita-cita menjadi tentara, katanya, agar bisa “melindungi kakek dan orang-orang baik.”
Namun, dengan kondisi seperti ini, pendidikan menjadi barang mewah. Ia jarang masuk sekolah, tak punya seragam lengkap, dan buku-bukunya pun basah terkena hujan.
Tetangganya mengenal Heri sebagai anak yang sopan dan kuat.
“Dia nggak pernah mengeluh. Walau lapar, tetap senyum. Kadang bantu-bantu saya angkat air,” ujar salah satu warga.
Kisah Heri adalah gambaran nyata bahwa kemiskinan masih menghantui banyak sudut negeri ini. Ia bukan sekadar data statistik dalam laporan tahunan. Ia adalah manusia kecil yang sedang berjuang untuk hidup, dengan kekuatan dan ketegaran yang luar biasa.
Masyarakat sekitar berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun pusat. Bantuan darurat memang sudah ada, tapi itu tak cukup untuk menjamin kehidupan yang layak bagi anak seusia Heri. Ia membutuhkan rumah yang aman, pendidikan yang berkelanjutan, serta perhatian medis dan psikologis yang sesuai.
Kisah Heri adalah cermin bagi kita semua, bahwa masih banyak saudara sebangsa yang terpinggirkan. Di tengah kemeriahan kota dan teknologi yang terus maju, masih ada anak-anak yang tidur di bawah terpal tanpa kepastian hari esok.
Kini, Heri menunggu. Bukan sekadar menunggu bantuan, tapi menanti uluran tangan yang melihatnya sebagai manusia utuh, yang berhak atas masa depan, seperti anak-anak lain di negeri ini.
( Maman )
Hidup di Bawah Terpal: Perjuangan Heri, Bocah 10 Tahun dari Indramayu yang Ditinggal Dunia Terlalu Cepat










