TEBO // Lingkaranistana Id – Pondok Pesantren Nurul Jadid, institusi pendidikan agama / Pompes tertua di kawasan transmigrasi Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, saat ini tengah menghadapi masa depan yang suram. Pesantren yang menjadi tonggak syiar Islam pertama bagi masyarakat transmigran sejak awal masa pembukaan wilayah tersebut dikabarkan nyaris bubar akibat krisis pengelolaan.
Melihat Tata Kelola
Pondok Pesantren Nurul Jadid selama puluhan tahun menjadi simbol ketahanan spiritual bagi warga transmigran di Rimbo Bujang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pamor dan operasional pesantren ini kian meredup dan sekarang ini santri yg ada +- cuma 70 Orang .
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penurunan drastis ini dipicu oleh manajemen internal yang kurang maksimal. Lemahnya tata kelola administrasi, minimnya transparansi pengelolaan keuangan, serta minimnya inovasi dalam sistem pengajaran menjadi faktor utama yang membuat kepercayaan wali santri menurun tajam.
”Sangat disayangkan, Nurul Jadid adalah sejarah. Namun, tanpa adanya pembenahan dalam sistem manajerial, institusi ini terancam hanya akan menjadi nama saja di buku sejarah daerah ini,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya.
Penurunan Jumlah Santri
Dampak dari buruknya pengelolaan tersebut terlihat jelas dari anjloknya jumlah santri yang mendaftar. Jika dulunya pondok ini menjadi pilihan utama orang tua di Rimbo Rimbo Kabupaten Tebo umumya untuk menitipkan pendidikan anak-anak mereka, kini keadaan berbanding terbalik. Banyaknya santri yang pindah ke pondok lain atau sekolah umum menjadi sinyal kuat adanya masalah kepercayaan (trust issue) yang serius.
Harapan Perubahan
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari para alumni dan warga sekitar. Banyak pihak yang mendesak agar segera dilakukan restrukturisasi total pada jajaran pengurus. Perubahan kepemimpinan dianggap sebagai jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Nurul Jadid dari kebangkrutan.
Beberapa tokoh masyarakat mulai berbicara bagaimana penyelamat Pondok Nurul Jadid tersebut,,yang melibatkan unsur yayasan, tokoh agama, serta alumni untuk melakukan audit dan perbaikan tata kelola yang lebih modern, transparan, dan akuntabel.
Jika tidak segera berbenah, dikhawatirkan salah satu aset sejarah terpenting di wilayah transmigrasi Rimbo Bujang ini akan benar-benar berhenti beroperasi, meninggalkan lubang besar dalam peta pendidikan karakter generasi muda di wilayah tersebut.( Tim)









