TEBO – Lingkaran Istana.Id — Publik Kabupaten Tebo, khususnya para pengiat sejarah dan budaya ,terus mempertanyakan kejelasan sejarah dan status hukum terkait keberadaan “Bukit Siguntang” yang berada di wilayah Kecamatan Sumai Kabupaten Tebo.Hingga saat ini, cerita-cerita yang beredar di tengah masyarakat dituding hanya sebatas cerita belaka tanpa adanya keterangan atau kajian ilmiah pasti dari pemerintah daerah.
Ironisnya, meski dasar sejarahnya masih abu-abu, lokasi ini kerap menjadi magnet perhatian dalam berbagai agenda tahunan. Banyak pihak menilai, eksistensi Bukit Siguntang Sumai selama bertahun-tahun ini sengaja dipelihara hanya untuk pemenuhan agenda seremonial belaka demi kepentingan formalitas birokrasi atau politik sesaat.
Bukit Siguntang sebuah bukit setinggi 79-100 mpl dan sebuah bukit yang dikenal dari dulu kala,termasuk dalam wilayah Desa Muara Sekalo Kecamatan Sumay kabupaten Tebo Provinsi Jambi.
Bukit ini dianggap sakral dan banyak diceritakan dalam cerita rakyat ,dalam tambo tentang Rajo Pagaruyung, dalam naskah Tun Sri Lanang berjudul salalatus salatin.
Bukit ini selalu dikunjungi oleh orang-orang dari dalam Provinsi Jambi dan luar daerah yang mengetahui kisahnya ada yang datang dari Jawa,Palembang,Riau dan daerah lainya. Dilihat dari udara,dulu Bukit Siguntang hijau dan luas,diseberang sungai Batang Sumay ada rawa yang disebut taman pemandian .
Sekarang sudah menyempit karena disekitarnya dijadikan perkebunan sawit.
Area Bukit Siguntang di Sumai ini dinilai cukup menarik perhatian para ahli sejarah dan pengiat budaya,,tapi sayang Makam Makam atau areal Bukit Siguntang Tidak seperti situs cagar budaya resmi yang memiliki dokumen register, zonasi, dan hasil ekskavasi arkeologis,
Bukit Siguntang Sumai murni hidup dari cerita tutur (cerita rakyat) dengan di temukan nya banyak makam makam yang di perkiraan adalah makam asal muasal kerajaan Melayu,,dan juga Bukit Seguntang adalah tempt pertemuan para raja raja Melayu. yang kebenarannya secara historis belum bisa dipertanggungjawabkan.
”Kami tidak pernah melihat ada dokumen resmi atau prasasti pendukung yang dirilis dinas terkait. Jangan sampai masyarakat disuguhi cerita yang terus diulang-ulang setiap tahun tanpa ada upaya pelurusan sejarah,” ujar Husni ,salah seorang warga Tebo.
Ketidakpastian ini diperparah dengan sikap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan maupun Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Propinsi Jambi dan Kabupaten Tebo yang terkesan enggan memberikan keterangan pasti. Belum pernah ada rilis resmi atau seminar uji publik yang melibatkan sejarawan kompeten untuk membedah asal-usul bukit tersebut.
Akibat ketidakjelasan ini, muncul kritik pedas dari berbagai elemen masyarakat karena Pemerintah daerah dianggap sengaja membiarkan status bukit ini menggantung tanpa ada kepastian.
Masyarakat Kabupaten Tebo kini mendesak Pemerintah Prop Jambi dan Kabupaten Tebo melalui dinas terkait untuk segera mengambil tindakan nyata. Jika memang Bukit Siguntang Sumai memiliki nilai sejarah murni, pemerintah wajib menggandeng Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk melakukan riset mendalam. Namun, jika tempat tersebut terbukti tidak memiliki nilai sejarah formal, pemerintah diminta jujur dan menghentikan seluruh kegiatan seremonial yang membodohi publik.Ucap Husni.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di lingkup Pemkab Tebo melalui dinas terkait,. Mengatakan,bahwa pengajuan Bukit Seguntang sebagai salah satu cagar budaya pernah di usulkan tapi karena kurangnya bukti yg otentik terkait status historis dan legalitas Bukit Siguntang Sumai saat ini belum ada titik terangnya .(Oeoes)










