Harmoni Melayu di Pesisir Dumai: Dialog Seni Budaya 4 Negara Tandai Awal Kerja Sama Baru

DUMAI//lingkaranistana.id –13 September 2026 —Angin pantai selat Malaka membawa kabar gembira. Di tepian Pantai Tantrayana, Kecamatan Medang Kampai, selama tiga hari berturut-turut — 11 hingga 13 September 2026 — terjalin ikatan yang sudah lama ada di dalam darah bangsa serumpun, kini kembali diperkuat lewat bahasa seni dan budaya. Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam hadir bersama, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara, dalam perhelatan Dialog Seni dan Budaya yang digagas putri daerah sendiri, Tantri Subekti, S.Pd dan Tim.

Mengusung tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital”, kegiatan ini bukan sekadar pementasan karya. Ia adalah pernyataan: budaya Melayu masih hidup, mampu berbicara lintas batas, dan siap melangkah ke masa depan tanpa melupakan akarnya.

Jumat, 11 September: Benih Kreativitas Ditanam

Segalanya bermula sederhana. Pukul 14.00 WIB, peserta mulai berdatangan — menyapa, berkenalan, menyiapkan tempat. Sore hari menjadi momen berbagi ilmu langsung dari para pegiat seni: Budi Sumarno, Bedjo Sulaktono, dan Umar Tadjuddin membimbing peserta dalam Workshop Seni Gerak, mengajak menyadari bahwa setiap gerak, suara, dan ekspresi adalah cermin jati diri.

Malam harinya, panggung mulai hidup. Puisi dari perantau negeri, musik yang memeluk hati, tarian yang bercerita — semua hadir menyatu, menandakan bahwa pertemuan ini bukan tentang siapa tampil, melainkan tentang kita bersama.

Sabtu, 12 September: Ketika Pemikiran Menyatu

Pagi yang cerah dibuka dengan kesederhanaan: ibadah, gerak tubuh menyegarkan, dan sarapan bersama yang menumbuhkan keakraban. Kemudian, diskusi mendalam pun dimulai.

Sesi pertama mengangkat persoalan mendasar: bagaimana keindahan seni Melayu dan nilai-nilai peradaban Islam saling menguatkan. Empat tokoh ilmu — Prof. Dr. H. Alaidin Koto, Prof. Dr. Husnu Abadi, Dr. Bambang Kariyawan Ys, dan H. Dheny Kurnia — membuka wawasan bahwa budaya dan iman bukan dua hal yang terpisah, melainkan sepasang sayap yang membawa peradaban melangkah tinggi.

Sesi kedua meluas ke seberang laut. Ekosistem imajinasi menjadi tema yang menyatukan pandangan seniman dari Jakarta, Dumai, Malaysia, Singapura, hingga Brunei. Mereka berbagi pengalaman, tantangan, dan harapan — bahwa kreativitas tidak mengenal perbatasan, hanya ruang yang harus diperluas bersama.

Malam Bersejarah di Pantai Tantrayana

Saat matahari terbenam, panggung resmi dibuka. Hadir mewakili Pemerintah Kota Dumai Handayani, S.H. (Asisten III PITEK), Ketua Lemba Adat Melayu Kota Dumai Drs.H Zambur Egab, MM,Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau H. Tekad P. Setia Dewata, perwakilan DPRD Provinsi Riau, pimpinan instansi setempat, serta utusan resmi dari tiga negara sahabat: Datuk Hasyim (Singapura), Datuk Seri Ramlee (Malaysia), dan Cik Norazlina Mohammad (Brunei).

Langit pantai menjadi saksi:

– Irama kompang menggetarkan dada

– Gerak silat dan tarian tepak sirih menyampaikan hormat dan persaudaraan

– Lagu kebangsaan membangkitkan rasa bangga

– Sambutan hangat dari Tantri Subekti menyampaikan harapan: seni budaya menjadi penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif Dumai

– Penandatanganan kanvas dukungan Strait Art Exhibition — janji kerja sama yang akan dipersembahkan Desember 2026

– Bantuan sosial diserahkan kepada Aku Cinta Dumai (ACD), bukti bahwa kebersamaan juga berarti peduli sesama

– Puncak kebersamaan: kolaborasi seniman lintas daerah dan negara, hingga api unggun menyala di bawah langit malam — simbol persaudaraan yang tak akan padam.

Minggu, 13 September: Pulang Membawa Harapan Baru

Kegiatan ditutup dengan kesan sederhana namun mendalam: salam perpisahan yang bukan berarti berakhir, melainkan awal pertemuan berikutnya. Sertifikat diserahkan, janji dijaga, dan nama Dumai tercatat sebagai kota yang berani mempersatukan kawasan serumpun.

Seperti dikatakan para tokoh: budaya Melayu yang dulu menyatukan wilayah ini, hari ini kembali menjadi jembatan. Semua berkat keyakinan dan keteguhan hati seorang putri daerah — Tantri Subekti — yang percaya: di Dumai, seni mampu menyatukan kita semua, dari pantai ke pantai, dari masa lalu ke masa depan.(Relis)

 

Editor :Irham

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *