Menjelang Mubes LAM Jambi, Yusdi Anra Berharap Pemimpin Mendatang Jaga Independensi dan Bebas Politik

Oplus_131072

Lingkaran Istana Id – Menjelang digelarnya Musyawarah Besar (Mubes) Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi pada bulan Desember 2026 mendatang, harapan besar disampaikan oleh Rektor IAI AN-NAJAH Jambi sekaligus Sejarawan Jambi, Dr. Drs. H. Yusdi Anra, M.Pd.

​Yusdi Anra mengharapkan agar sosok yang terpilih memimpin LAM Jambi ke depan merupakan figur yang mampu memperkuat peran adat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemimpin adat hendaknya memegang teguh filosofi kepemimpinan Melayu Jambi:
​”Ibarat sebatang pohon gedang di tengah dusun, batangnya besak tempat bersandar, daunnya rimbun tempat berlindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnya besak tempat bersilo, pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.”

​Selain itu, ia menekankan pentingnya memilih nakhoda yang benar-benar mampu mengemban amanah lembaga tanpa terwarnai oleh kepentingan politik praktis maupun kelompok tertentu. Hal ini sejalan dengan roh dan amanah Perda Nomor 2 Tahun 2014 tentang Lembaga Adat Melayu Jambi. Jangan sampai ada pemimpin yang “telunjuk lurus kelingking bekait” atau “menggunting dalam lipatan” demi kepentingan politik sesaat.

​Pentingnya menjaga eksistensi dan marwah LAM Jambi secara murni sangat krusial agar distorsi yang dapat merusak independensi lembaga tidak terjadi di masa kini, esok, maupun masa yang akan datang.
​”Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi bukan sekadar wadah pelestarian tradisi, melainkan penguat moral dan pembangun karakter masyarakat Jambi yang berintegritas,” tegas Yusdi Anra.

​Prinsip dasar Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah harus terus dipelihara agar adat tetap menjadi benteng moralitas dan pemersatu negeri.
​Di akhir penyampaiannya, ia berharap Mubes LAM Jambi mendatang melahirkan pemimpin yang bijaksana dan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat. Sebagaimana seloko adat “duduk sorang besempit-sempit, duduk basamo balapang-lapang”, pemimpin adat harus mengutamakan musyawarah untuk mufakat agar tercipta kondisi “negeri aman padi menjadi, aek bening ikannya jinak” demi kemajuan dan ketenteraman Bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan.

(Hi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *