JAMBI, LINGKARAN ISTANA ID – Jelang berakhirnya masa kepemimpinan H. Hasan Basri Agus (HBA) di Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi, bursa calon Ketua Umum LAM Jambi ke depan mulai hangat diperbincangkan. Nama tokoh kenamaan Jambi, H. Fachruddin Razi, adik dari mantan Gubernur Jambi mendiang H. Abdurrahman Sayoeti, mendadak mencuat dan digadang-gadang sebagai sosok paling tepat untuk menahkodai lembaga adat tersebut.
Dukungan kuat mengalir dari berbagai elemen masyarakat Jambi, mulai dari para tokoh adat, politikus, hingga warga lapisan bawah. Mereka menilai H. Fachruddin Razi memiliki kapabilitas, integritas, serta paham betul akan pakaian adat dan akar budaya Melayu Jambi untuk membawa LAM Jambi ke arah yang lebih pembaruan.

Masyarakat menilai rekam jejak beliau sangat mumpuni. Dalam kancah publik dan akademis, H. Fachruddin Razi dikenal sebagai politikus senior Partai Golkar yang pernah mengemban amanah sebagai anggota DPR RI daerah pemilihan (Dapil) Jambi, sekaligus menjabat sebagai Rektor Universitas Batanghari (Unbari).
Selain kiprah politik dan akademisnya, ketokohan beliau mengakar kuat di tengah masyarakat. Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Masyarakat Jambi Seberang (PB KMJKS), H. Fakhruddin Razi, S.H., M.H. terbukti aktif dalam kegiatan sosial serta konsisten mendorong pembangunan kawasan Jambi Seberang.
Aspirasi masyarakat menekankan bahwa Ketua LAM Jambi ke depan haruslah sosok yang betul-betul paham adat dan tradisi, serta berani membenahi berbagai pekerjaan rumah (PR) adat yang kian kompleks. LAM Jambi tidak boleh hanya berfokus pada aktivitas di Kota Jambi semata, melainkan harus hadir dan merangkul hingga ke tingkat kabupaten, kecamatan, hingga ke tingkatan desa.
Saat ini, tatanan adat di tingkat akar rumput dirasakan kian tergerus oleh zaman. Tali silaturahmi dan komunikasi kelembagaan adat antara pengurus pusat dengan kabupaten hingga desa terkesan terputus, sehingga penerapan adat Melayu yang sebenarnya kerap tak berjalan berlandaskan seloko “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”.
Salah satu tokoh masyarakat, menegaskan pentingnya pembenahan total dalam tubuh pengurus adat agar peran LAM dapat dirasakan nyata oleh masyarakat pelosok.
”Ketua LAM Jambi ke depan harus sosok yang paham seloko dan pakaian adat yang sebenarnya. LAM tidak boleh cuma di Kota Jambi wae, tapi harus bertelingo lantang mendengar persoalan adat di kabupaten, kecamatan, sampai ke desa-desa yang mulai tergerus. Tali silaturahmi adat yang sempat terputus harus dirajut kembali dari udik hingga hilir,” ujarnya
Masyarakat dan berbagai elemen di Jambi berharap besar agar kepemimpinan LAM Jambi ke depan melalui sosok H.Fahruddin dapat memperkokoh seloko “titian teras bertangga batu, cermin nan tidak kabur, lantak nan tidak goyah” demi menjaga marwah adat Melayu Jambi. Semoga niat baik dan harapan seluruh masyarakat ini diridhoi oleh Allah SWT.
(Husni)






