Jambi, Lingkaran Istana ID – Penemuan benda bersejarah kembali membuktikan kekayaan peninggalan literasi dan tradisi kuno di Tanah Sepucuk Jambi Lurah. Sebuah surat naskah kuno beraksara Ulu ditemukan di kediaman salah seorang warga yang berlokasi di Kelurahan Selamat, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi.
Naskah kuno tersebut ditulis di atas media kayu gaharu. Meski berusia tua, kondisi naskah ini tergolong sangat terawat sehingga jajaran huruf dan teksnya masih dapat dibaca dengan jelas oleh para ahli.
Berdasarkan penuturan Via Dicky, sejarawan Jambi dari Pusat Perkumpulan Kebudayaan dan Daerah (Pudas) Jambi, aksara Ulu sendiri secara historis banyak digunakan oleh masyarakat di kawasan Ogan Komering Ulu (OKU), Lampung, hingga Bengkulu.
”Media naskah ini berasal dari kayu gaharu. Isinya memuat tulisan berupa mantra-mantra serta petunjuk tata cara Belangir (ritual penyucian diri tradisional),” ujar Via Dicky saat memberikan keterangan.
Tim Pudas Jambi meninjau dan mengunjungi langsung lokasi penemuan naskah bersejarah tersebut bersama Ketua BAZNAS Kota Jambi, Dr. Sy. Padli, M.Pd.I.
Dari hasil pembacaan dan identifikasi awal pada lembar naskah, halaman kedua memuat teks transliterasi per huruf sebagai berikut:
”A YANG RA HU AKU MA NDI (RI) KAN CA (YA) A LAH A YANG HU A KU MA NDI RI KAN CA YA RING SUN (X) U MI NAH I BU RA SU LU LAH BA PA NDA M DI BU MI A DA N DI BA WAH BU MI A SI N I YA MU HA MA T SI YA PA LU PA DI JA NJI KAN KA NA SA PA TA A LAH (X) A MAR RA JANG KA TA RA SU LU LAH MA NGU”
Jika diterjemahkan ke dalam makna tulisan tersebut:
”Ayang Rahu aku mendirikan cahaya Allah, Ayang Rahu aku mendirikan cahaya diriku (X) Uminah (Aminah) Ibu Rasulullah berpendam di Bumi Adan (Taman Eden), di bawah Bumi Asin. Dia Muhammad, siapa lupa dijanjikan kena Syafaat Allah (x) Amar Rajang (?) kata Rasulullah menghi~”
Penemuan naskah aksara Ulu bertuliskan tradisi spiritual dan penyucian diri di atas media kayu gaharu ini menjadi khazanah penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, serta pelestarian kebudayaan di Provinsi Jambi. Para peneliti dan budayawan berharap peninggalan ini dapat terus dijaga dan dikaji lebih dalam sebagai warisan budaya bangsa.
(Hi)






