Desa Jambe Hidupkan Kembali Tradisi Mapag Sri, Rayakan Panen dengan Penuh Khidmat dan Kemeriahan

Oplus_131072

Indramayu/lingkaranistana.id — Tradisi dan rasa syukur berpadu dalam harmoni dalam perayaan Pesta Adat Mapag Sri di Desa Jambe, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu. Bertempat di kantor desa, ratusan warga berkumpul dalam suasana hangat penuh semangat gotong royong untuk merayakan hasil panen yang melimpah, Rabu/18/2025.

Mapag Sri, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal, kembali digelar dengan megah. Warga dari berbagai kalangan tampak antusias menyaksikan tiap rangkaian acara yang sarat makna dan nilai spiritual. Momen ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap hasil bumi, tetapi juga wadah untuk mempererat kebersamaan antar warga.

Sorotan utama malam itu jatuh pada pagelaran Wayang Kulit bertajuk Langgeng Budaya, dipimpin oleh dalang kenamaan Abimanyu. Kepiawaian Abimanyu dalam menghidupkan tokoh-tokoh pewayangan dan membawakan kisah sarat filosofi berhasil menyedot perhatian penonton hingga larut malam. Setiap adegan terasa hidup berkat suara lantang dan ekspresif sang dalang yang menghipnotis hadirin.

Nuansa budaya semakin kental saat sinden Tia Permatasari, yang datang dari Gegesik, Cirebon, mempersembahkan suara emasnya. Alunan gamelan yang mengiringi menambah kesyahduan, menciptakan suasana sakral sekaligus menghibur.

Dalam sambutannya, Kuwu Rudi Hartono menegaskan bahwa Mapag Sri lebih dari sekadar pesta.

“Ini adalah ungkapan syukur atas karunia panen yang diberikan Tuhan, sekaligus upaya kami melestarikan budaya agar tetap hidup di tengah modernisasi,” tuturnya.

Seluruh rangkaian acara, dari persiapan hingga pelaksanaan, tak lepas dari peran aktif masyarakat. Semangat gotong royong yang mengakar kuat menjadikan perayaan ini terasa istimewa.

Pesta Adat Mapag Sri di Desa Jambe tahun ini bukan hanya menyuguhkan hiburan tradisional, tetapi juga menjadi refleksi nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi. Suatu perayaan yang membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan juga identitas dan kekuatan yang menyatukan.
( Maman )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *