KEDIRI (Jatim), Media Nasional Lingkaranistana.id – Jalan Soekarno-Hatta, Kabupaten Kediri, Rabu (12/8/2026), berubah menjadi lautan pelajar. Ribuan siswa SMP dan MTs dari berbagai penjuru Kabupaten Kediri turun ke jalan dalam Lomba Baris-Berbaris (LBB) 2026.

Sebanyak 177 pleton putra-putri ambil bagian dalam ajang yang digelar Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri tersebut. Namun, LBB tahun ini bukan sekadar adu kekompakan, ketepatan gerakan, maupun perebutan juara.

Di balik derap langkah dan suara komando, terselip pesan yang jauh lebih besar: membangun karakter pelajar sekaligus membentengi sekolah dari praktik bullying atau perundungan.
Sejak pagi, kawasan depan Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri di Kecamatan Ngasem dipadati peserta. Seragam sekolah berpadu dengan berbagai kostum kreasi. Aba-aba komandan pleton bersahutan dengan hentakan kaki yang serempak.
Dari garis start, para peserta bergerak menuju finis di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). Jarak tempuh tersebut bukan hanya menguras stamina, tetapi juga menguji konsistensi, kedisiplinan dan kemampuan setiap anggota mempertahankan kekompakan hingga garis akhir.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengatakan, antusiasme peserta tahun ini meningkat dibanding pelaksanaan sebelumnya.
“Tahun ini pelaksanaan LBB dinilai lebih meriah karena jumlah peserta regu atau pleton mengalami peningkatan yang cukup bagus dibanding pelaksanaan sebelumnya,” ujar Muhsin.
Menurutnya, tingginya partisipasi sekolah menjadi bukti bahwa kegiatan di luar kelas tetap memiliki posisi penting dalam pendidikan karakter.
Sebab, menurut Muhsin, LBB bukan sekadar mencari siapa yang paling cepat, paling rapi atau paling layak menjadi juara. Ada nilai disiplin, tanggung jawab, kepatuhan terhadap aturan dan kemampuan bekerja dalam satu tim yang harus ditanamkan kepada siswa.
“Melalui LBB ini, anak-anak dilatih untuk meningkatkan kedisiplinan dan kerja sama tim. Bagaimana mereka harus fokus, taat, serta patuh kepada aba-aba pimpinan regunya.
Disiplin dan kolaborasi seperti ini merupakan bagian dari softskill yang sangat penting bagi perkembangan masa depan anak,” jelasnya.
Yang tak kalah penting, semangat kebersamaan dalam LBB diarahkan menjadi bagian dari gerakan menciptakan sekolah yang aman dan nyaman.
Pelajar didorong memahami bahwa kekompakan bukan hanya saat berdiri dalam satu barisan. Nilai saling menghargai, menghormati, membantu dan tidak merendahkan teman harus dibawa kembali ke ruang kelas dan lingkungan sekolah.
Pesan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) yang disampaikan melalui Muhsin juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan antarpelajar.
Generasi muda, kata dia, merupakan bagian penting dari masa depan Kabupaten Kediri. Karena itu, kompetisi harus menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, bukan justru melahirkan permusuhan.
“Jangan sampai semangat berkompetisi berubah menjadi saling menjatuhkan. Justru dari kegiatan seperti ini harus lahir rasa saling menghormati, kerja sama dan persaudaraan,” pesannya.
Semangat tersebut juga dirasakan Kepala SMPN 1 Gurah Ernia Purnamawati, S.Pd. Menurutnya, LBB memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja dalam tim dan membangun kepercayaan diri.
“Kegiatan Lomba Baris-Berbaris ini bukan sekadar ajang kompetisi fisik, melainkan momentum penting bagi para siswa untuk memaknai kemerdekaan melalui tindakan nyata. Di lapangan ini, mereka belajar tentang kedisiplinan yang tinggi, kerja sama tim yang solid, dan rasa tanggung jawab yang besar,” tuturnya.
Ernia menegaskan, semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui prestasi dan karakter, bukan berhenti sebagai materi pelajaran di ruang kelas.
“Kami di SMPN 1 Gurah selalu menekankan bahwa mengisi kemerdekaan harus diwujudkan melalui prestasi dan karakter yang kuat, bukan sekadar teori di dalam kelas. Saya sangat bangga melihat semangat dan kekompakan anak-anak hari ini,” tukasnya.
( Kaperwil Jatim Nanik Susana )









