Puluhan Praktisi Spiritual Gelar Ziarah di Bukit Siguntang, Bahas Sejarah Raja Sigentar Alam dan Penarikan Benda Pusaka

PALEMBANG, LINGKARAN ISTANA – Puluhan praktisi spiritual, pemerhati budaya, dan pelaku pengobatan alternatif menghadiri kegiatan silaturahmi spiritual yang digelar di kawasan Petilasan Raja Sigentar Alam, Bukit Siguntang, Palembang, Kamis (28/5/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 20.00 WIB tersebut diawali dengan doa bersama dan ziarah sebagai bentuk penghormatan terhadap Raja Sigentar Alam yang diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah Sumatera Selatan. Hadir dalam kegiatan itu antara lain Bunda Ratu, Padepokan Cakra Nur Al-Ikhsan, PCNI Sumsel, Kanjeng Jaya, Raden, serta Heri Kisabet Welang.

 

Selain melakukan doa bersama, para praktisi spiritual yang hadir juga melakukan penelusuran spiritual yang menurut mereka bertujuan untuk mempererat silaturahmi, menjaga nilai-nilai budaya, serta menghormati para leluhur yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Sumatera Selatan.

 

Bunda Ratu, seorang praktisi spiritual sekaligus pengobatan alternatif, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sempat diarahkan untuk menelusuri sejarah Raja Sigentar Alam melalui pendekatan spiritual. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak dilanjutkan karena sejarah bangsa dan daerah telah memiliki sumber-sumber tertulis yang dapat dijadikan rujukan.

Bunda Ratu Supranatural Pengobatan Alternatif

 

“Sejarah yang sesungguhnya sudah tercatat dalam berbagai sumber dan literatur. Karena itu, kami tidak menjadikan pendekatan gaib sebagai acuan utama untuk mengungkap sejarah. Kegiatan ini lebih kepada silaturahmi, doa bersama, dan penghormatan kepada leluhur,” ujarnya.

 

Dalam kegiatan tersebut, para praktisi spiritual juga mengaku menemukan beberapa benda yang diyakini sebagai benda pusaka. Dari sejumlah benda yang ditemukan, dua batu pusaka disebut berhasil diamankan, sementara satu benda lainnya dikabarkan menghilang. Benda-benda tersebut kemudian diserahkan kepada salah satu praktisi spiritual yang hadir, yakni Kanjeng Jaya.

Sebuah Dua Batu Didapatkan Saat Penarikan Di Bukit Siguntang

 

Menurut Bunda Ratu, berbagai pengalaman spiritual yang terjadi selama kegiatan tidak dapat dijadikan kebenaran mutlak. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai setiap informasi yang diperoleh melalui hal-hal gaib tanpa melakukan kajian dan verifikasi terlebih dahulu.

 

“Kita harus bijak menyikapi hal-hal seperti ini. Tidak semua yang datang secara gaib harus langsung dipercaya. Perlu kehati-hatian dan pemahaman agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.

 

Pada kesempatan itu, Bunda Ratu juga menyampaikan pandangannya mengenai kawasan Bukit Siguntang yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Palembang. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai historis dan spiritual yang perlu terus dijaga serta dihormati oleh seluruh pengunjung.

 

Ia berharap masyarakat yang datang ke lokasi tersebut tetap menjaga etika dan sopan santun sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Sumatera Selatan.

 

Menurut Bunda Ratu, penghormatan terhadap situs-situs bersejarah dan tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah. Ia juga menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya merupakan pandangan pribadi berdasarkan pengalaman spiritual yang ia rasakan.

 

“Saya hanya menyampaikan pandangan berdasarkan pengalaman spiritual yang saya rasakan. Tidak ada maksud untuk menyalahkan pihak mana pun. Harapan saya, nilai sejarah, budaya, dan penghormatan terhadap leluhur tetap terjaga dengan baik,” tuturnya.

 

Sementara itu, Kanjeng Jaya mengatakan bahwa kegiatan silaturahmi spiritual tersebut tidak hanya bertujuan menjaga tradisi dan budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama praktisi spiritual dan paranormal di Sumatera Selatan.

 

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk membangun komunikasi, memperkuat persaudaraan, serta menjalin sinergi antarsesama praktisi agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Kanjeng Jaya Juga Merupakan Seorang Praktisi Paranormal, Yang Merupakan Salah Satu Dari Padepokan Cakra Nur,Al -ikhsan
PCNI Sumsel

 

“Acara malam ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antarsesama praktisi spiritual dan paranormal. Kami ingin menjaga kebersamaan serta membangun hubungan yang baik agar ke depan dapat melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Kanjeng Jaya.

 

Ia menambahkan, salah satu program yang sedang direncanakan adalah kegiatan pengobatan gratis bagi masyarakat, baik untuk keluhan medis maupun nonmedis, dengan tetap mengedepankan pendekatan sesuai bidang keahlian masing-masing.

 

“Kami berharap ke depan para praktisi spiritual dan paranormal dapat terus berkontribusi membantu masyarakat. Membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan, termasuk mereka yang berjuang untuk mendapatkan kesembuhan, merupakan bentuk pengabdian dan nilai kebaikan yang patut dijaga,” katanya.

 

Kegiatan silaturahmi spiritual tersebut berlangsung dalam suasana khidmat hingga larut malam. Selain menjadi ajang mempererat persaudaraan antarsesama praktisi spiritual, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana menjaga nilai-nilai budaya, sejarah, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang ada di Sumatera Selatan.

 

Praktisi Spiritual yang Hadir dalam Kegiatan:

 

•Bunda Ratu (Praktisi Spiritual dan Pengobatan Alternatif)

•Padepokan Cakra Nur Al-Ikhsan (PCNI) Sumsel

•Kanjeng Jaya

•Raden

•Heri Kisabet Welang

 

Informasi Kontak Narahubung:

•Kanjeng Jaya: 0838-2788-8089

•Raden: 0878-9677-6607

•Heri Kisabet Welang: 0822-8092-7020

 

Masyarakat yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kegiatan sosial, spiritual, maupun konsultasi pengobatan alternatif dapat menghubungi narahubung yang tercantum di atas.

 

(Toni)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *